Uncategorized 

Riview Buku : Dunia Sophie (Jostein Gaarder)

Oleh : Hendi Supriatna

Dunia sophie adalah sebuah novel yang enceritakan tentang alur perjalanannya pemikiran filsuf. Bagaimana zaman dari zaman pemikian filsuf ini. Semua ini dijelskan dalam novel dunia sophie. Dari pemikiran yunani kuno hingga zaman sekarang. Pemikiran filsuf dibedang satu persatu meskipun dipindangkanya tidak secara princi Cuma begitulah sebuah novel.

Penulisnya adalah Joostein Gaarder lahir pada 1952 dioslo Norwegia. Gaarder telah mengajar filsafat untuk tingkat sekolah tingkat menengah dinorwegia. Selama lebih dari sebelas tahun. Kini dia adalah seorang penulis full time.

Filsafat adalah suatu pemikiran untuk mengatarkan kepada pemikiran yang benar. Selain itu juga, filsafat telah mengatarkan bagaimana manusia hidup dalam kebenaran dan penuh pemaknaan. Akantetapi filsafat kebanyakan setelah kita mempelajari filsafat. Filsafat adalah ruang kosong yang tidak ada makna sama sekali.

Maka dari itu, setelah belajar filsafat yang akan terjadi hanyalah kegundaman dan kecemasan. Rasa takut akan suatu hal akan terlintas dalam pikiran kita. Kenapa filsafat seperti itu karena filsafat menjawab dan bertanya pada sebuah jawaban yang sulit untuk dijawab. Karena belajar filsafat jarang dipelajari dimasyarakat umum karena susah dan selalu mengawang-ngawang.

Dan jarang faham orang-orang setelah mempelajari filsafat ini. Karena susahnya sehingga masyarakat umum beranggapan bahwa filsafat mengatarkan kepada jalan sesat. Menurutnya seperti itu akan tetapi mereka tidak tau. Filsafat adalah mencari pada sebuah kebenaran berfikir kritis dan mampu merasionalkan sesuatu.

Maka dari itu, Kita akan membahas dari awal bagaimana pemikiran para filsuf. Pertanyaan yang mendasar adalah mengenai taman firdaus. Apakah kita ini ada atau tidak ada. Kemudian apakah kita berawal dari manakah kita. Apakah ada titik awal manusia itu diciptakan. Dan bagaimana proses diciptakan itu. lalu kenapa kita diciptakan dan oleh siapakah kita diciptakan yang paling awal. Filsuf menjawabnya adalah satu sosok diluar diri kita yang transendental.

Transendental adalah suatu sosok yang diluar diri kita yang mengandaikan. Bagaimana proses mengandaikan itu kemudian bagaimana mengetahui bahwa sosok diluar diri kita ini. Apakah benar-benar ada ataukah jangan-jangan tidak ada. Apakah diluar diri kita itu hanyalah sebuah ide yang mengawang-ngawang terhadap suatu konsep suatu sosok yang ada didiri kita.

Tapi penulis sendiri percaya bahwa diluar diri kita ada suatu sosok yang sempurna. Bagaimana kita ketahui bahwa diluar diri kita masih ada suatu sosok yang sempurna apakah kesempurnaan itu. bagaimana indikator sempurna itu jangan-jangan sempurna juga adalah keadaan objektif kita. Kenapa manusia selalu menghidari akan kesepiannya. Dan kenapakah manusia itu selalu menginginkan sandaran atas ketidak mampuannya untuk menyandarkan terhadap  sesuatu.

Tuhan adalah sebagai sandaran manusia karena manusia ketidak sanggupan akan dirinya. Ketika manusia mampu menyaandar akan dirinya manusia lupa akan tuhan. Akan tetapi manusia juga selalu mempunyai konsep tuhan yang berbeda. Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu konsep tentang ketuhanan adalah yang benar adalah yang ini mutlak. Dan itu menaghasilkan konsesus bersama bagaimana tuhan yang sebenarnya.

Bagaimana kita ketahui bahwa suatu sosok diluar diri kita bisa ketahui. Pertama, adalah kita tidak bisa tau bahwa itu ada. Artinya adanya sesuatu pasti ada yang mengadakan. Tidak mungkin ada jika sesuatu itu tidak ada yang mengadakan.  Artinya sosok diluar diri kita itu apakah mungkin untuk kita ketahui. Menurut penulis mungkin karena karena logika rasionalnya yang tadi tidak mungkin kita ada tanpa ada yang mengadakan.

Kemudian pertanyaan kita adalah apakah yang ada itu berawal dari ketiadaan. Apakah mungikin dari sesuatu yang tidak ada menjadi apakah mungkin. Ini tidak mungkin apakah kita ada unsur tuhan. Yang beda dengan tuhan sendiri. Apakah bisa dimungkinkan dari suatu yang satu mutlak menjadi satu yang berbeda bagaimana ini bisa dimungkin.

Kemudian untuk menjadi seorang filsuf apakah kita harus memikirkaan sesuatu. Iya kita harus bahwa pikiran kita mengatarkan pada sesuatu yang ingin tau. Seorang filsuf adalah rasa keingin tahuannya yang lebih tinggi bagaimana kita bagaimana kita bisa mengetahui dari sesautu yang tidak tau. Bahwa dalam tema topi pesulap adalah bagaimana ketidak tauan itu menjadi tau. Seorang pesulap biasanya selalu menampilakan trik-trik yang tidak tau. Maka dari itu, menjadi seorang filsuf harus dicari tau. Bagaimana dia bisa seperti itu. apakah kita bisa seperti dia lalu bagaimaanakah prosesnya untuk menapainya.

Contoh lain dalam kehidupan adalah ketika kita bayi pasti rasa ingin taunya sangat tinggi. Tapi rasa ingin tau itu dihalangi oleh suatu bayangan menakutkan yang terjadi padahal itu belem tentu terjadi atau enggak. Ketika anak-anak bertanya dimakah tuhan itu lalu kenapakah tuhan menciptakan. Lalu buat apakah kita itu diciptakan. Pertanyaan seperti ini biasa langsung ole orang tuanya hey nak gak boleh mempertanyaankan seperti itu. itu murtad kafir dan lain sebagainya. Artinya ketika melakukan seperti ini sudah jelah bahwa pemikiran kita disetop oleh suatu ketakutan yang belum passti terjadi. Akan tetapi suatu yang akan datang bisa saja terjadi atau enggak.

Maka dari pemikiran seperti itu lahiran mitos-mitos yang dibuat oleh persepsi masyarakat. Dari persepsi-persepsi itu melahirkan sebuah mitos yang melekat dimasyarakat. Lalu apakah mitos itu. mitos adalah suatu persepsi masyarakat tentang suatu kejadian yang mistis. Apakah kebenarannya bisa dirasionalkan menurutku tidak ini adalah suatu kesalahan berpikir dalam ruang lingkup asyarakat umum.

Maka benar dan salah menjadi patokan dalam kehidupan. Bahwa ini salah oh ini benar. Suatu kesimbangan yang rawan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Baik dan jahat selalu dikategorikan bahwa itu jangan didekati dan ini bisa dilakukan. Apakah seorang filsuf percaya akan suatu mitos. Ini semuanya masih dipertanyaakan bagaimana kebenarannya.

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: