Sikap Mahasiswa Terhadap 17 April 2019 Nanti

Indonesia akan menggelar pemilu serentak, seluruh calon yang berada dalam rezim pemilu (Presiden, DPR, DPD dan DPRD) akan mengerahkan seluruh tenaganya demi citra yang elok dihadapan pemilih.

Tapi konon katanya pesta demokrasi pada april nanti berbeda dengan sebelumnya, bukan karena si calon di setiap dapil adalah artis ftv apalagi mantan girlband dan boyband Indonesia, namun karena komunikasi politik yang berpusat pada Presiden sebagai tonggak utama, dalam teori disebut.

cottail effect, dimana para pemilih akan memilih calon DPR, DPD dan DPRD dengan melihat partai atau koalisi partai yang akan memilih Presidennya. Lantas timbul pertanyaan, dimana letak gerak politik Mahasiswa yang konon disebut sebagai Middle Class?

Apakah harus ikut berkampanye simbol jari sana sini dan tegap dengan alasan logis untuk memilih?

Ataukah malah harusnya melakukan kritik terbesar dalam demokrasi kepada calon dan sistem dengan tidak menggunakan hak pilihnya untuk datang ke TPS?.

Apakah mahasiswa garut sendiri percaya dengan pemerintah. Lantas apa yang dipercaya. Sedang perekonomian, tata ruang kota, inprastuktur, pertanian, hanya 5 % peningkatan dalam 20 tahun terakhir. Bagaimana garut mau maju dengan sistem yang dipakai birokrasi sangan lelet dan buruk.

Seharusnya sistem yang dibangun oleh birokrasi harus mampu mengatasi hal itu. Males ngetik karena buat apa ? Ngetik dan tidak ngetikpun tidak ada artinya.

#mahasiswa tidak percaya dengan pemerintah.

Intelektual sejatinya harus dan wajib membahas permasalahan yang membumi, terlebih soal kekuasaan, sebab jika kekuasaan sewenang-wenang.

Maka sudah golput adalah pilihan kritis mahasiswa karena sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah. Kemudian apakah bisa golput bisa dimungkinkan menjadi solusi. Kedua kata itu sama-sama tidak ada artinya.

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: