Mahasiswa Politik 

Apa Kabar Mahasiswa Hari Ini : Mencari Persoalan Substantif Bangsa Indonesia

Manipulation, sloganizing, depositing, regimentation, and prescription cannot be components of revolutionary praxis, precisely because they are the components of the praxis of domination.
-Pauolo freire

Di era transisi generasi ini,sangat banyak sekali persoalan-persoalan yang baru menghampiri ruang eksistensi umat manusia. Baik secara individual maupun komunal. Runtuhnya ruang dan waktu dalam sebuah gagasan konsep masa kini, ditambah berbagai arus-arus informasi yang datang tak tentu arah , sudah tentu membingungkan fokus gerakan hari ini. Dan sebuah keharusan untuk kita sebagai mahasiswa untuk meninjau ulang kembali urgenisitas vital yang terjadi pada bangsa ini.
Sebenarnya apa yang terjadi pada bangsa dan negara ini, dan dimanakah posisi mahasiswa seharusnya?

Sumber : Documen panitia

Seperti kita ketahui bersama bahwa pasca reformasi 1998 sudah tentu banyak terjadi perubahan dalam sendi-sendi politik negara ini. Disukai atau tidak, fakta mengatakan bahwa reformasi memang sukses mengulingkan seorang tiran besar. Dan pasca kejadian tersebut, sampai sekarang, berbagai macam kebebasan demokrasi dirayakan. Salah satu contoh yang paling kentara adalah partai-partai, ormas, dll tumbuh bak jamur di musim penghujan. Tapi apakah dengan berbagai macam partai, ormas dll itu, kehidupan manusia di negara ini membaik?
Jika tidak, lantas dimanakah letak permasalahan utamanya?
Dalam keberlangsungan prosesnya, singkatnya reformasi ternyata gagal dalam menggagas perubahan bangsa ini secara substansial. bisa dikatakan belum ada progres yang benar-benar monumental. Korupsi ,perampasan tanah, pelanggaran ham, ketidak adilan hukum, dan isu-isu lainya malah semakin menjadi.
Dan disaat yang sama,mahasiswa di era milenial ini, cenderungan untuk kembali menjadi manusia apatis karena dampak dari proses globalisasi. Penetrasi budaya konsumeris lintas dunia yang dibawa oleh arus pasang globalisasi, juga telah membuat mahasiwa sekarang cenderung tidak peduli dengan keadaan sosial yang ada di sekitarnya. Sikap hidup atau gaya hidup hura-hura pun telah mengakar pada tiap-tiap kehidupan remaja dan telah cenderung menjadi sebuah kebiasaan.
Hal tersebut juga diperparah dengan kondisi perguruan tinggi sekarang. Ketika tak usai-usai nya persoalan klasik tentang sulitnya kalangan miskin untuk sekolah karena keterbatasan ekonomi, dan pendidikan dikuasi oleh para kapital, ditambah lagi persoalan yang bisa kita lihat didalam tubuh pendidikan itu sendiri, bahwa telah terjadi proses dehumanisasi yang terstuktur.
Bagaimana kampus-kampus telah menjadi ‘Pabrik-pabrik’ yang memproduksi mahasiswa sebagai komoditi layak jual, Pada ‘Pasar’. Karena ‘Pasar’ sedang menanti lulusan-lulusan yang terbaik. Kasarnya mahasiswa dianggap tak lebih dari sekedar hewan ternak atau ‘barang jualan’.
Ironi yang selanjutnya adalah manakala seorang inteletual ataupun aktifis gerakan mahasiswa kehilangan idealisme dan independensinya. Tak asing ditelinga kita tentang perselingkuhan antara kaum penindas dan peyambung lidah si tertindas yang dimana pada ujungnya mereka malah meminta jatah ‘kesejahteraan’. Rakyat yang harusnya menjadi kawan sejati dalam berjuang melawan penindasan baru,justru dibuang dan dikhianati. Perselingkuhan ini adalah sebuah dosa yang teramat besar.
Bisa kau bayangkan bagaimana munafiknya mereka kalangan intelektual dan gerakan, dengan berbekal diktat dan teori-teori untuk menjatuhkan rakyat ? juga saat kebanyakan praktisi-praktisi hukum yang seharusnya menjadi penegak keadilan malah memutarbalikan hukum untuk kepentingan-kepentingan penguasa?
Bukankah itu perbuatan yang amat sangat hina ?
Sudah menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa untuk terus membaca. Membaca teori-teori, dan juga membaca situasi dan kondisi lingkungannya. Karena mahasiswa sejatinya adalah jembatan kokoh antara teori dan realitas. Makin luas wawasan seorang mahasiswa, maka ia akan mampu untuk menjadi Problem Solver.
Gerakan mahasiswa sejatinya tidak boleh berhenti, sebelum perubahan masyarakat seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini terwujud. Karena dehumanisasi menjijikan seperti ini sudah tentu keluar dari cita-cita perjuangan berdirinya Republik Indonesia ini. Tentu tidak semua mahasiswa mengkhianati peran besarnya, masih ada segelintir mahasiswa intelektual organik yang mengerti apa yang harus dilakukan, Mereka yang segelintir itu paham bahwa suara-suara ketertindasan harus diperjuangkan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.
Telah kita ketahui bersama bahwa peran penting mahasiswa dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat sebenarnya ada dalam 4 peran utama
peran moral , Peran sosial,peran akademik dan yang terakhir adalah peran politik.
Dan peran politik bisa dikatakan adalah peran yang paling berbahaya. karena disini, sebenarnya mahasiswa berfungsi sebag

Sumber : Documen panitia

ai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah lalilm.
Namun yang terjadi hari ini bisa kita saksikan bersama sama. Apa yang terjadi.
singkatnya
“Nowadays in reality money rules in every country and human. and absolutely the press then shapes public opinion.”
Untuk diskusi, dan persoalan lebih lanjut mari kita duduk dan diskusikan bersama tentang hal apa yang sebenarnya harus kita perhatikan dan rubah. Apakah nalar gerakan, atau sudut pandang gerakan, atau apapun itu.
Tabik.
Alerta! Bandung Bergerak !

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: