Karya Tulis MMQ 

Ikhlas Dan Buah Keikhlasan Dalam Al-Qur’an

Oleh: Siti Ainun Asri
Al-Qur’an adalah risalah yang hidup dan selalu urgen hingga hari akhir, oleh karena itu pintu penafsiran al-Qur„an harus selalu dibuka dan jangan pernah ditutup. Sisi lain al-Qur„an sebagai sumber dan penggerak kaum muslimin dalam mengaplikasikan ajaran serta tuntunan hidup mereka, memotivasi munculnya penafsiran di setiap masa merupakan keniscayaan yang tak terelakkan, jika merujuk kepada al-Qur”an dan Sunnah, akan ditemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. Firman Allah dalam surat al-Hajj ayat 46:

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS.al-Hajj:46).

Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan, sedangkan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam ikhlas, karena keikhlasan merupakan buah dan intisari dari iman, seseorang tidak dianggap beragama dengan benar sebelum hatinya ikhlas. Al-Qur’an adalah kitab mukjizat yang kekal abadi yang merupakan sumber undang-undang Rabani yang membahas aspek kehidupan. Salah satu sifat yang agung dari sekian sifat Rabani adalah ikhlas yang merupakan pondasi dari keimanan kita. Ikhlas adalah melaksanakan amal kebajikan hanya semata-mata karena Allah swt[1]sebab ikhlas bagaikan ruh bagi segala amal yang bernilai di sisi Allah. [2]

Secara bahasa kata ikhlas berasal dari bahasa Arab artinya murni, tiada bercampur, bersih, jernih.[3] Ikhlas secara bahasa berbentuk masdar, dan fi’ilnya adalah akhlasa, fi’il tersebut berbentuk mazid. Adapun bentuk mujarradnya adalah khalasa. Makna khalasa adalah bening (safa), segala noda hilang darinya, jika dikatakan khalasal ma’a min al kadar (air bersih dari kotoran) artinya air itu bening, jika dikatakan dhahaban khalis (emas murni) artinya emas yang bersih tidak ada noda di dalamnya, dalam hal ini, emas tidak dicampuri oleh partikel lain seperti perunggu dan lain sebagainya.

Ikhlas adalah suci dalam niat, bersih batin dalam beramal, tidak berpurapura, lurus hati dalam bertindak, jauh dari riya dan kemegahan dalam berlaku berbuat, mengharapkan ridha Allah semata-mata.[4] Menurut Erbe Sentanu[5] ikhlas merupakan Defaul Factory Setting manusia, yakni manusia sudah dilahirkan dengan fitrah yang murni dari Ilahi, hanya saja manusia itu sendirilah yang senang mendiskonnya sehingga kesempurnaannya menjadi berkurang, ini akibat berbagai pengalaman hidup dan ketidak tepatan dalam berfikir atau berprasangka, sehingga hidupnya pun menjadi penuh kesulitan.

Jadi ikhlas merupakan sesuatu hal yang bersifat batiniyah dan teruji kemurniannya dengan amalan saleh, ia merupakan perasaan halus yang tidak dapat diketahui oleh siapapun. Amal perbuatan adalah bentuk-bentuk lahiriyah yang boleh dilihat sedangkan roh amal perbuatan itu adalah rahasia yaitu keikhlasan. [6]

Adapun Kriteria ikhlas menurut tafsir at-tustari, yaitu sebagai berikut :

1.      Muhsin Kriteria ini dapat diketahui ketika at-Tustari memahami Q.S. Luqman (31):22:

“Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.”

Ayat tersebut oleh at-Tustari dikaitkan dengan Q.S. an-Nisa (4): 125

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).

Ayat-ayat yang disebutkan di atas digunakan oleh at-Tustari untuk menjelaskan Q.S. al-Baqarah (2): 112

“Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

At-Tustari mengatakan bahwa yang dimaksud muh{sin adalah berbuat baik dalam agama yang ia korelasikan dengan ayat ke-125 dari Q.S. an-Nisa‟. Kemudian ia mengatakan bahwa orang yang lebih baik agamanya adalah orang yang meng-ikhlas-kan (memurnikan) agamanya karena Allah yang berupa agama Islam dan syariatsyariatnya.

2.      Muslih

Bagian ini at-Tustari mengategorikan ikhlas sebagai muslih, yaitu sebagai orang yang membaguskan hati atau jiwanya kepada Allah. Ini terdapat pada Q.S. al-Anbiya‟ (21): 105:

“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”

At-Tustari mengatakan bahwa hamba-hamba yang saleh adalah yang selalu membaguskan hati atau jiwanya kepada Allah dan memutus segala sesuatu selain Allah. Karena sesuatu tersebut tidak akan membekas di sisi Allah kecuali perkara yang didasari dengan ikhlas karena Allah.

3.      Munib

Kriteria orang yang ikhlas yang berikutnya adalah munib, yaitu orang yang kembali. Ini terlihat ketika at-Tustari menafsirkan Q.S. Qaf (50): 8

“untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).”

At-Tustari mengatakan bahwa seorang yang kembali adalah orang yang ikhlas hatinya karena Allah dengan cara mengesakan-Nya dan selalu ingat terhadap Allah. Sedangkan menurut al-Qurtubi, munib adalah orang yang mau berpikir dan merenungkan kekuasaan Allah dan kembali ke jalan-Nya.  Dan menurut at-Tabari adalah setiap hamba yang kembali kepada keimanan kepada Allah dan amal saleh.  Kemudian al-Qusyairi mengatakan bahwa munib adalah orang yang kembali dari penyaksian terhadap pekerjaan Allah sampai pada mengetahui sifatnya Allah dan penyaksian dari sifatnya Allah sampai pada haknya Allah dan zatnya Allah.

Setiap apa yang kita tanam pasti akan ada hasil yang akan kita petik. Sesungguhnya pohon keikhlasan akan menghasilkan buah keikhlasan: manis, indah, dan menyenangkan. Karena berasal dari pohon yang baik, akarnya kuat dan kokoh sedangkan cabangnya menjulang ke langit, menghasilkan buahnya setiap saat (Lihat surat Ibrahim: 24-25)

{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni syahadat atau persaksian yang bunyinya ‘tidak ada Tuhan selain Allah’. seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yang dimaksud ialah orang mukmin. akarnya teguh. (Ibrahim: 24) Yaitu kalimat, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ tertanam dalam di hati orang mukmin. dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim: 24) Maksudnya, berkat kalimat tersebut amal orang mukmin dinaikkan ke langit.

Demikianlah menurut Ad-Dahhak, Sa’id ibnu Jubair, Ikrimah, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa sesungguhnya hal ini merupakan perumpamaan tentang amal perbuatan orang mukmin, ucapannya yang baik, dan amalnya yang saleh. Dan sesungguhnya orang mukmin itu seperti pohon kurma, amal salehnya terus-menerus dinaikkan (ke langit) baginya di setiap waktu, pagi dan petang.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma. Juga menurut riwayat Syu’bah, dari Mu’awiyah ibnu Qurrah, dari Anas, bahwa pohon itu adalah pohon kurma.

Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Syu’aib ibnul Habhab, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. mendapat kiriman sekantong buah kurma. Maka beliau Saw. membaca firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni pohon kurma.

Tetapi telah diriwayatkan melalui jalur ini dari lainnya (Syu’aib ibnul Habhab), dari Anas secara mauquf. Hal yang sama telah di-Mas-kan oleh Masruq, Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Ad-Dahhak Qatadah, dan lain-lainnya.

قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا عُبَيدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ أَبِي أُسَامَةَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “أَخْبِرُونِي عَنْ شَجَرَةٍ تُشْبِهُ -أَوْ: كَالرَّجُلِ -اَلْمُسْلِمِ، لَا يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا [وَلَا وَلَا وَلَا] تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ”. قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَا يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ، فَلَمَّا لَمْ يَقُولُوا شَيْئًا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “هِيَ النَّخْلَةُ”. فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَا، وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. قَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَتَكَلَّمُونَ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُولَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرُ: لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Ismail, dari Abu Usamah, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah Saw., beliau bersabda, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang pohon yang menyerupai seorang muslim, ia tidak pernah rontok daunnya, baik di musim panas maupun di musim dingin, dan ia mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya’.” Ibnu Umar mengatakan, “Lalu terdetik di dalam hatiku jawaban yang mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tetapi aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak bicara, maka aku merasa segan untuk mengemukakannya. Setelah mereka tidak menjawab sepatah kata pun, bersabdalah Rasulullah Saw. bahwa pohon tersebut adalah pohon kurma. Ketika kami bangkit (untuk pergi), aku berkata kepada Umar, ‘Wahai ayahku, demi Allah, sesungguhnya telah terdetik di dalam hatiku jawabannya, bahwa pohon itu adalah pohon kurma.’ Umar berkata, ‘Apakah yang mencegahmu untuk tidak mengatakannya?’Aku menjawab, ‘Aku tidak melihat kalian menjawab, maka aku segan untuk mengatakan­nya atau aku segan mengatakan sesuatu.’ Umar berkata, ‘Sesungguhnya bila kamu katakan jawaban itu lebih aku sukai daripada anu dan anu’.”

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ: صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَلَمْ أَسْمَعْهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا -قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى بِجِمَارٍ. فَقَالَ: “مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةٌ مَثَلُهَا مَثَلُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ”. فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ: هِيَ النَّخْلَةُ، فَنَظَرَتْ فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ، [فَسَكَتُّ] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “هِيَ النَّخْلَةُ”

Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, bahwa ia pernah menemani Ibnu Umar ke Madinah, dan ia tidak mendengar dari Ibnu Umar suatu hadis dari Rasulullah Saw. kecuali sebuah hadis. Ia mengatakan, “Ketika kami (para sahabat) sedang berada di hadapan Rasulullah Saw., tiba-tiba disuguhkan kepada beliau Saw. setandan buah kurma. Maka beliau Saw. bersabda: ‘Di antara pohon itu ada sebuah pohon yang perumpamaannya sama dengan seorang lelaki muslim.’ Aku bermaksud mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tetapi aku memandang ke sekeliling, ternyata aku adalah orang yang paling muda di antara kaum yang ada (maka aku diam tidak menjawab), dan Rasulullah Saw. bersabda, ‘Pohon itu adalah pohon kurma’.”

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

قَالَ مَالِكٌ وَعَبْدُ الْعَزِيزِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا لِأَصْحَابِهِ: “إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَطْرَحُ وَرَقُهَا، مِثْلُ الْمُؤْمِنِ”. قَالَ: فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي، وَوَقَعَ فِي قَلْبِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ [فَاسْتَحْيَيْتُ، حَتَّى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “هِيَ النَّخْلَةُ] ”

Malik dan Abdul Aziz telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya: Sesungguhnya di antara pepohonan itu terdapat sebuah pohon yang tidak pernah gugur dedaunannya menjadi perumpamaan orang mukmin. Ibnu Umar melanjutkan kisahnya, “Orang-orang (yang hadir) menduganya pohon yang ada di daerah pedalaman, sedangkan di dalam hatiku terdetik bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tetapi aku malu mengutarakannya; hingga Rasulullah Saw. bersabda bahwa pohon itu adalah pohon kurma.”

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari, juga oleh Imam Muslim.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبَانُ -يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ الْعَطَّارَ -حَدَّثَنَا قَتَادَةُ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ! فَقَالَ: “أَرَأَيْتَ لو عمد إلى متاع الدُّنْيَا، فَرَكَّبَ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ أَكَانَ يَبْلُغُ السَّمَاءَ؟ أَفَلَا أُخْبِرَكَ بِعَمَلٍ أَصْلُهُ فِي الْأَرْضِ وَفَرْعُهُ فِي السَّمَاءِ؟ “. قَالَ: مَا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “تَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ”، عَشْرَ مَرَّاتٍ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ، فَذَاكَ أَصْلُهُ فِي الْأَرْضِ وَفَرْعُهُ فِي السَّمَاءِ”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibny Ismail, telah menceritakan kepada kami Aban (yakni Ibnu Zaid Al-Attar), telah menceritakan kepada kami Qatadah, bahwa seorang lelaki pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta telah pergi dengan memborong banyak pahala.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Bagaimanakah pendapatmu, seandainya dia dengan sengaja menghimpun harta kesenangan duniawi, lalu ia menumpukkan sebagian darinya di atas sebagian yang lain, apakah (tingginya) dapat mencapai langit? Maukah kamu bila kuberitahukan kepada­mu suatu amal yang akarnya tertanam di dalam bumi, sedangkan cabangnya menjulang ke langit?” Lelaki itu bertanya, “Wahai Rasulullah, amal apakah itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Kamu ucapkan kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar. Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah’ sebanyak sepuluh kali seusai mengerjakan tiap-tiap salat. Maka itulah yang akarnya tertanam di bumi, sedangkan cabangnya menjulang ke langit.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) bahwa pohon tersebut adalah sebuah pohon yang ada di dalam surga.

Firman Allah Swt.:

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim. (Ibrahim: 25)

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan kulla hinin ialah setiap pagi dan petang. Menurut pendapat lain yaitu setiap bulan, sedangkan pendapat lainnya mengatakan setiap dua bulan. Pendapat lain menyebutkan setiap enam bulan, ada yang mengatakan setiap tujuh bulan, ada pula yang mengatakan setiap tahun.

Makna lahiriah konteks ayat menunjukkan bahwa perumpamaan orang mukmin sama dengan pohon yang selalu mengeluarkan buahnya setiap waktu, baik di musim panas maupun di musim dingin, siang dan malam hari. Begitu pula keadaan seorang mukmin, amal salehnya terus-menerus diangkat (ke langit) baginya, baik di tengah malam maupun di siang hari, setiap waktu.

بِإِذْنِ رَبِّهَا

dengan seizin Tuhannya. (Ibrahim: 25)

Yakni mengeluarkan buahnya yang sempurna, baik, banyak, bermanfaat, lagi diberkati.

{وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ}

Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Ibrahim: 25).

Referensi :

1.      Al-Ghazali ,Muhammad. 1986. Akhlak Seorang Muslim .Semarang: Wicaksana

2.      Munawir & Al-Bisri. 1999. Kamus Al-Bisri. Surabaya: Pustaka Progressif

3.      Nuruddin, Ahmad Jamhuri Juharis. Kewajiban Muslim Terhadap Al-Qur‟anul Karim .Jakarta: Percetakan Madu

4.      Gazalba, Sidi. 1975.  Asas Agama Islam. Jakarta:Bulan Bintang

5.      Sentanu, Erbe. 2008.  Quantum Ikhlas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

6.      Quzwain, M. Khatib.  Mengenal Allah: Suatu Pengajian Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh Abdul Samad Al-Palimbani. Jakarta: Pustaka Bulan Bintang

7.      http://eprints.iain-surakarta.ac.id/469/1/10.%20Muh.%20Ainu

8.      http://www.dakwatuna.com/2008/05/07/593/buah-keikhlasan/#ixzz5XbS3OJsk

9.      http://www.ibnukatsironline.com

[1] Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim (Semarang: Wicaksana, 1986), 139

[2] Ahmad Jamhuri Juharis Nuruddin, Kewajiban Muslim Terhadap Al-Qur‟anul Karim (Jakarta: Penerbit Percetakan Madu, T,T),1

[3] Munawir & Al-Bisri, Kamus Al-Bisri (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), 171.

[4] Sidi Gazalba, Asas Agama Islam (Jakarta:Bulan Bintang, 1975), 188.

[5] Erbe Sentanu, Quantum Ikhlas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2008), 37.

[6] M. Khatib Quzwain, Mengenal Allah: Suatu Pengajian Mengenai Ajaran Tasawuf Syaikh Abdul Samad Al-Palimbani ( Jakarta: Pustaka Bulan Bintang, t.t), hlm.16

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: