JENIS DAN KARAKTERISTIK MEDIA TABLIGH

A. Standar Kompetensi
Mahasiswa dapat mengetahui, memahami dan menjelaskan kembali jenis dan karakteristik media tabligh.

B. Uraian Materi
Dari beberapa perkembangan media muncul beberapa klasifikasi menurut kesamaan ciri atau karakteristiknya. Ada berbagai pengklasifikasian media yang disesuaikan menurut tujuan atau maksud pengelompokannya. Ada banyak media tabligh, mulai dari yang sangat sederhana hingga yang kompleks dan rumit, mulai dari yang hanya menggunakan indera mata hingga perpaduan lebih dari satu indera. Dari yang murah dan tidak memerlukan listrik hingga yang mahal dan sangat tergantung pada perangkat keras.
Perkembangan media pengajaran menurut Asbhy (1972) seperti yang dikutip oleh Miarso, telah menimbulkan revolusi empat kali dalam dunia dakwah. Revolusi pertama telah terjadi beberapa puluh abad yang lalu, yaitu pada saat orang tua menyerahkan dakwah anak-anaknya kepada orang lain yang berprofesi sebagai muballigh; revolusi kedua terjadi dengan digunakannya bahasa tulisan sebagai sarana utama dakwah; revolusi ketiga timbul dengan tersedianya media cetak yang merupakan hasil ditemukannya mesin teknik percetakan; dan revolusi keempat berlangsung dengan meluasnya penggunaan media komunikasi elektronik.
Sekarang ini kita hidup dalam era informasi yang ditandai dengan tersedianya informasi yang semakin banyak dan bervariasi, tersebarnya informasi yang makin meluas dan seketika, serta tersajinya informasi dalam berbagai bentuk dalam waktu yang cepat. Karena semua usaha pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan penyajian informasi senantiasa menggunakan media, maka era ini dapat pula disebut lingkungan bermedia.
Para ahli memiliki pandangan atau pendapat yang berbeda dalam membuat klasifikasi atau mengelompokkan jenis media yang biasa digunakan dalam proses tabligh pada mad’u. Berikut ini secara singkat diuraikan dari masing-masing jenis dan karakteristik media tabligh :
1. Media Visual
Media visual adalah media yang menyampaikan pesan melalui penglihatan pemirsa atau media yang hanya dapat dilihat. Jenis media visual ini nampaknya yang paling sering digunakan oleh muballigh untuk membantu menyampaikan isi dari tema tabligh yang sedang dipelajari. Media visual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected visual) dan media yang tidak dapat diproyeksikan (non-projected visual)
Media Visual Yang Diproyeksikan (Projected Visual)
Media visual yang dapat diproyeksikan pada dasarnya adalah media yang menggunakan alat proyeksi (projector) sehingga gambar atau tulisan tampak pada layar (screen). Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam, misalnya gambar diam (still pictures) dan media proyeksi gerak, misalnya gambar bergerak (motion pictures).
Alat proyeksi tersebut membutuhkan aliran listrik dan membutuhkan ruangan tertentu yang cukup memadai. Pada sekolah-sekolah yang ada di daerah perkotaan yang memiliki kemampuan untuk mengadakan media proyeksi ini tentu sangat menguntungkan sebab bisa ditata lebih menarik perhatian dibandingkan dengan media yang tidak diproyeksikan.
Jenis alat proyeksi yang saat ini bisa digunakan untuk kegiatan tabligh di antaranya adalah Opaque Projection, Overhead Projection (OHP), dan Slide Projection. Ketiga jenis alat proyeksi tersebut, yaitu untuk menampilkan gambar diam (still pictures). Opaque (baca: opek) Media visual yang diproyeksikan pada dasarnya merupakan media yang menggunakan alat proyeksi (disebut proyektor) di mana gambar atau tulisan akan nampak pada layar (screen).
Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam misalnya gambar diam (still pictures) dan proyeksi gerak misalnya gambar bergerak (motion pictures). Alat proyeksi tersebut membutuhkan aliran listrik dan membutuhkan ruangan tertentu yang cukup memadai. adalah proyektor yang mampu memproyeksikan benda-benda dan gambar/huruf dari halaman buku atau majalah atau lembar kertas biasa. Berbeda dengan proyektor OHP dan slide projector yang memproyeksikan gambar-gambar dan huruf-huruf melalui lembar plastik yang tembus cahaya (transparan).
Untuk menampilkan gambar hidup (motion pictures) bisa menggunakan alat proyeksi yang disebut filmstrips atau film projection. Dengan adanya perkembangan yang sangat pesat dalam dunia media visual yang diproyeksikan, saat ini di sekolah-sekolah yang sudah modern sudah digunakan alat proyeksi LCD dengan berbantuan komputer. Pada sekolah-sekolah yang memiliki kemampuan untuk mengadakan alat proyeksi LCD ini tentu bisa menata tabligh secara lebih menarik lagi karena bisa menampilkan berbagai hal yang terkait dengan pencapaian kompetensi/tujuan tabligh dibandingkan dengan alat proyeksi lainnya.
Jenis-jenis alat proyeksi yang biasa digunakan untuk menyampaikan pesan dakwah untuk mad’u diantaranya: OHP (overhead projection) dan slide suara (soundslide). Pada lembaga dakwah yang ada di daerah perkotaan yang memiliki kemampuan untuk mengadakan alat proyeksi ini tentu sangat menguntungkan sebab kegiatan tabligh bisa ditata lebih menarik perhatian dibandingkan dengan media yang tidak diproyeksikan.
Transparancy Overhead adalah suatu karya grafis yang dibuat di atas sehelai plastik yang tembus pandang, kemudian diproyeksikan ke sehelai layar dengan sebuah proyektor overhead (OHP), untuk mengajarkan atau menjelaskan sesuatu. Plastik yang dipakai membuat transparancy OHP berupa plastik khusus. Ada yang disebut kertas acetate, kertas write on 3M dan dari merk-merk lainnya. Namun transparancy overhead dapat pula dibuat dari plastik yang digunakan untuk taplak meja tapi hasilnya jika diproyeksikan agak suram.
Untuk membuat gambaran atau tulisan diatas plastik harus menggunakan spidol khusus visual marker atau signpen dari 3M atau stabilo, ada yang permanen dan ada yang dapat dihapus dengan berbagai ukuran. Dalam pembuatan gambar atau tulisan diusahakan sesederhana mungkin, jangan terlalu ramai, jangan pula mempergunakan bentuk-bentuk yang sulit. Untuk pembuatan gambar cukup berbentuk sederhana/ tidak rumit, sedangkan untuk membuat kalimat jarak antara kata kira-kira 1-1,5 kali lebar huruf dan lebih baik menggunakan warna spidol hitam atau biru, untuk penekanan pokok diberi warna merah. Dalam satu lembar transparan jangan sampai melebihi 7 baris.

Media Visual Tidak Diproyeksikan (Non Projected Visual)
Jenis media visual yang tidak diproyeksikan yang akan dijelaskan dalam kajian ini mencakup: (a) gambar fotografik (b) grafis.

a. Gambar Fotografik
Gambar fotografik atau seperti fotografik ini termasuk ke dalam gambar diam/mati (still pictures), misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan isi/bahan tabligh yang akan disampaikan kepada mad’u. Dalam pelaksanaannya, anda dapat melibatkan para mad’u untuk mencari gambar diam ini. Gambar fotografik ini ada yang tunggal dan ada pula yang berseri, misalnya fotonovela, yaitu sekumpulan gambar fotografik yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Adapun media visual yang tidak diproyeksikan terdiri atas media gambar diam/mati. Beberapa karakteristik dari gambar diam/ mati dapat dijelaskan sebagai berikut :
– Gambar Diam atau Gambar Mati
Gambar diam atau gambar mati adalah gambar-gambar yang disajikan secara fotografik atau seperti fotografik, misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan bahan/isi tema yang diajarkan. Gambar diam ini ada yang sifatnya tunggal ada juga yang berseri, yaitu berupa sekumpulan gambar diam yang saling berhubungan satu dengan lainnya.
b. Media grafis
Media grafis adalah suatu penyajian secara visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan atau simbol visual yang lain dengan maksud untuk mengikhtisarkan, menggambarkan dan merangkum suatu ide, data atau kejadian.Secara umum fungsi media grafis untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indra penglihatan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Simbol-simbol itu perlu dipahami benar artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien.
Selain fungsi umum tersebut, secara khusus media grafis berfungsi pula untuk menarik perhatian, memperjelas ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan. Sebagai acuan untuk memperjelas jenis media yang akan dipilih untuk kegiatan tabligh, kita harus mengenal karakteristik media grafis, yang secara umum meliputi hal-hal sebagai berikut:
Ciri-ciri Media Grafis
a) Media dua dimensi artinya hanya memiliki ukuran panjang dan lebar saja, sehingga hanya dilihat dari satu arah bagian depannya saja.
b) Media visual diam artinya pesan yang disampaikan hanya dapat diterima melalui indera mata dengan tidak menunjukkan unsur gerak pada medianya.
Adapun Kelebihan / Keuntungan Media Grafis.
a) Bentuk medianya sederhana sehingga mudah pembuatannya.
b) Lebih ekonomis karena biayanya relatif murah, dapat dipakai berkali-kali.
c) Bahan dan alat produksinya mudah diperoleh.
d) Mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
e) Penggunaanya tanpa menggunakan peralatan khusus dan mudah penempatannya.
f) Jelas dan hanya sedikit memerlukan informasi tambahan.
g) Dapat membandingkan suatu perubahan.
h) Dapat divariasikan anatara media grafis yang satu dengan yang lainya.
Sedangkan Kekurangan/Kelemahan Media Grafis
a) Tidak dapat menjangjau kelompok penerima pesan yang besar
b) Hanya menekankan persepsi indra penglihatan saja
c) Tidak menampilkan unsur “audio dan motion”
Media grafis adalah media pandang dua dimensi (tapi bukan fotografik) yang dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan pesan-pesan tabligh. Unsur-unsur yang terdapat dalam media grafis ini adalah gambar dan tulisan. Media ini dapat digunakan untuk mengungkapkan fakta atau gagasan melalui penggunaan kata-kata, angka serta bentuk simbol (lambang). Bila saudara akan menggunakan media grafis ini saudara harus memahami dan mengerti arti simbol-simbolnya sehingga media ini akan lebih efektif untuk menyajikan isi tema kepada anak.
Beberapa jenis media grafis yang lazim dipakai dalam proses tabligh di lembaga sekolah, diantaranya akan kita bahas berikut ini:
1) Sketsa.
Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draft kasar yang melukiskan bagian-bagian pokok dari bentuk objek tanpa detail. Sketsa bisa dibuat diatas kertas gambar dengan satu yang dipersiapkan untuk materi tertentu, dan dapat juga langsung pada papan tulis sambil muballigh menerangkan dengan menggunakan kapur biasa. Sketsa selain dapat menarik perhatian murid menghindari verbalisme, juga dapat memperjelas penyampaian dengan harga murah dibandingkan dengan media apapun.
2) Gambar.
Gambar merupakan bahasa bentuk/rupa yang umum, yang dapat dimengerti dinikmati dimana-mana. Gambar yang dimaksud dalam media grafis adalah gambar karya tangan dan bukan foto hasil teknik fotografi. Penyajian objek melalui gambar dapat mengungkapkan bentuk nyata maupun kreasi khayalan belaka sesuai dengan bentuk yang pernah dilihat orang yang menggambarkannya. Kemampuan gambar dapat berbicara lebih banyak daripada seribu kata sehingga dapat memperjelas suatu masalah karena sifatnya konkrit. Kelebihan lain dari gambar yaitu dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, keterbatasan kemampuan pengamatan muballigh, selain harga yang murah dan mudah dipergunakan tanpa memerlukan peralatan khusus. Selain kelebihan-kelebihan tersebut, gambar juga memiliki beberapa kelemahan yaitu hanya menekankan persepsi indra mata dan karena ukurannya hanya terbatas untuk kelompok besar sehingga kalau gambarnya terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan tabligh.
3) Grafik.
Grafik adalah pemakaian lambang visual untuk menjelaskan perkembangan sesuatu keadaan dengan menggunakan titik, garis atau bentuk-bentuk dan diberi keterangan yang sesuai. Tujuan penggunaan grafik yaitu untuk menjelaskan data statistik secara visual, untuk memperlihatkan hubungan dan perbandingan, pertumbuhan, perkembangan, perubahan secara kuantitatif dengan jelas. Dilihat dari bentuk penampilannya dikenal beberapa jenis grafik, yaitu grafik garis, grafik batang, grafik balok, grafik lingkaran, dan grafik bergambar. Kelebihan grafik sebagai media yaitu dapat memungkinkan kita mengadakan analisis, interpretasi, dan perbandingan antara data-data yang disajikan baik dalam hal ukuran, jumlah, pertumbuhan, dan arah. Hal ini karena penyajian data pada grafik jelas, cepat menarik, ringkas dan logis.
4) Bagan.
Bagan merupakan penyajian ide-ide atau konsep-konsep secara visual yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi. Dalam bagan terdapat juga media grafis yang lain seperti gambar, diagram, kartun atau lambang-lambang verbal. Maksud penggunaannya dalam tabligh ialah untuk memperlihatkan adanya hubungan, perkembangan, atau perbandingan antara fakta inti dan buah pikiran. Tujuan penggunaan bagan yaitu untuk menerangkan suatu ide secara simbolis, merangkum suatu keterangan secara sistematis, memperlihatkan hubungan antar data, memperlihatkan pertimbuhan suatu struktur dengan memakai garis-garis, lambang-lambang dan gambar-gambar. Bagan atau chart ditinjau dari bentuk penyajiannya secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu:
– Bagan yang menyajikan pesan bertahap, contohnya bagan balik (flip chart) dan bagan tertutup (hidden chart).
– Bagan yang menyajikan pesan sekaligus, contohnya bagan pohon (tree chart), bagan arus (flow chart), bagan garis waktu (time line chart) dan kebalikan dari bagan pohon (stream chart).
5) Poster.
Poster merupakan media grafis perpaduan antara gambar dengan tulisan untuk menyampaikan informasi, saran, seruan, peringatan dan ide-ide lain. Pada poster hanya memberikan tekanan pada satu atau dua ide pokok sehingga dapat dimengerti hanya dengan melihat sepintas lalu.
– Gambarnya sederhana berbentuk natural atau silhuet.
– Menyajikan satu ide untuk mencapai satu tujuan pokok.
– Tidak banyak warna.
– Tulisan selogan ringkas, jitu, dan jelas.
Adapun fungsi poster sebagai media dakwah yaitu sebagai bahan untuk mengembangakan ide, sebagai peringatan, sebagai alat membangkitkan, motivasi dan rasa estestis, sebagai alat dakwah preventif.
6) Kartun dan karikatur.
Gambaran tentang seseorang, suatu buah pikiran atau keadaan dapat dituangkan dalam bentuk lukisan yang lucu atau menggelikan yang biasa disebut dengan nama kartoon atau karikatur.
Dalam perkembangannya dewasa ini kartun dapat dibedakan dari karikatur dilihat dari segi visualisasinya, yaitu :
– Kartoon gambarnya berbentuk seri dan berwarna, lebih bersifat menghibur sehingga selalu dipadukan dengan unsur teks dalam adegannya.
– Karikatur gambarnya berbentuk tunggal atau tiga adegan dan hitam putih, lebih bersifat mengeritik atau menyindir sehingga tidak menggunakan unsur teks berupa kalimat. Gambarnya stereotipe.
Tujuan penggunaan kartun karikatur dalam tabligh, yaitu sebagi bahan penggerak perhatian, untuk menyerahkan perubahan tingkah laku atau sikap tertentu, sebagai ilustrasi dari suatu pokok masalah atau pelajaran, sebagai alat mempertinggi motivasi dan keaktifan.
7) Peta datar.
Peta adalah penyajian visual yang merupakan gambaran datar dari permukaan bumi atau sebagian dari padanya dengan menggunakan titik-titik, garis-garis dan simbol visual lainnya, sehingga dapat menggambarkan lokasi suatu tempat, luas, jarak antar tempat, dan keadaan dalam bentuk perbandingan dengan menggunakan skala tertentu. Pada biasanya digunakan sebagai media dalam pelajaran ilmu bumi atau ilmu pengetahuan sosial pada umumnya. Jenis-jenis peta ditinjau dari segi isinya terdiri dari peta keadaan alam, peta politik atau kenegaraan, peta ekonomi, peta ethologi dan peta sejarah. Sedangkan ditinjau dari segi bentuknya, ada yang berbentuk tiga dimensi seperti peta timbul dan global, dan bentuk dua dimensi sebagai karya grafis seperti pada garis besar pada papan tulis, peta yang tetap yang dikenal dengan peta buta, peta dinding, dan kumpulan peta-peta berupa buku yang disebut atlas.
2. Media Audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak untuk mempelajari isi tema. Contoh media audio yaitu program kaset suara dan program radio. Penggunaan media audio dalam kegiatan tabligh pada umumnya untuk melatih keterampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek keterampilan mendengarkan. Dari sifatnya yang auditif, media ini mengandung kelemahan yang harus diatasi dengan cara memanfaatkan media lainnya.
Terdapat beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan apabila akan menggunakan media audio untuk mad’u yaitu:
a. Media ini hanya akan mampu melayani secara baik mereka yang sudah memiliki kemampuan dalam berpikir abstrak. Sedangkan muballigh perlu mempertimbangkan penerapannya pada anak usia dini, karena pada fase ini anak dalam kategori cara berpikir secara konkrit, oleh karena itu penggunaan media audio bagi anak-anak perlu dilakukan berbagai modifikasi disesuaikan dengan kemampuan anak.
b. Media audio ini memerlukan pemusatan perhatian yang lebih tinggi dibanding media lainnya, oleh karena itu jika akan menggunakan media audio untuk anak-anak usia dini, dibutuhkan teknik-teknik tertentu yang sesuai dengan kemampuan anak.
c. Karena sifatnya yang auditif, jika Anda ingin memperoleh hasil belajar yang yang dicapai anak lebih optimal, diperlukan juga pengalaman-pengalaman secara visual. Kontrol belajar bisa dilakukan melalui penguasaan perbendaharaan kata-kata, bahasa, dan susunan kalimat.
3. Media Audiovisual
Sesuai dengan namanya, media ini merupakan kombinasi dari media audio dan media visual atau biasa disebut media pandang-dengar. Dengan menggunakan media audiovisual ini maka penyajian isi tema kepada anak akan semakin lengkap dan optimal. Selain itu media ini dalam batas-batas tertentu dapat menggantikan peran dan tugas muballigh. Dalam hal ini muballigh tidak selalu berperan sebagai penyampai materi karena penyajian materi bisa diganti oleh media. Peran muballigh bisa beralih menjadi fasilitator belajar, yaitu memberikan kemudahan bagi anak untuk belajar. Contoh dari media audiovisual ini diantaranya program televisi/video dakwah/instruksional, program slide suara, dan sebagainya.
4. Media cetak.
Secara historis, istilah media cetak muncul setelah ditemukannya alat pencetak oleh Johan Gutenberg pada tahun 1456. Kemudian dalam bidang percetakan berkembanglah produk alat pencetak yang semakin modern dan efektif penggunaannya.
5. Multimedia
Sejalan dengan perkembangan IPTEK maka penggunaan media, baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya. Menurut Yudi Munadi (2008) ”Multimedia tabligh adalah media yang mampu melibatkan banyak indera dan organ tubuh selama proses tabligh berlangsung”. Menurut Smaldino (2005:) yang menyatakan bahwa:
Multimedia systems may consist of traditional media in combination or they may in-corporate the computer as a display device for text, pictures, graphics, sound, and video. The term multimedia goes back to the 1950s and describes early attempts to combine various still and motion media for heightened educational effect.
Multimedia sistem terdiri dari media tradisional dalam kombinasi atau digabungkan dalam komputer sebagai gambaran teks, gambar, grafik, suara dan video. Istilah multimedia didiskripsikan sebagai penerapan untuk mengkombinasikan berbagai media untuk mempengaruhi tingkat dakwah. Multimedia merupakan kombinasi dari komputer dan video, atau multimedia merupakan kombinasi dari suara, gambar, dan teks.
Multimedia adalah kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output dari data, media ini dapat berupa audio, animasi, video, teks, grafik, dan gambar. Multimedia merupakan alat yang menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, audio, dan gambar video.
Pemanfaatan multimedia dengan berbasis komputer yang dapat digunakan dalam proses tabligh multimedia presentasi. Multimedia presentasi digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang sifatnya teoritis digunakan dalam tabligh klasikal, baik untuk kelompok kecil maupun besar. Media ini cukup efektif sebab menggunakan multimedia projector (LCD) yang memiliki jangkauan pancar cukup besar. Pemanfaatan multimedia dalam presentasi ini biasanya menggunakan perangkat lunak yang paling tersohor, yakni berupa powerpoint.
Ada beberapa kelebihan penggunaan multimedia presentasi yaitu:
a. Mampu menampilkan objek-objek yang sebenarnya tidak ada secara fisik atau diistilahkan dengan imagery. Secara kognitif tabligh dengan menggunakan mental imagery akan meningkatkan retensi mad’u dalam mengingat materi-materi pelajaran.
b. Memiliki kemampuan dalam menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, image, grafik, dan sound menjadi satu kesatuan penyajian yang terintegrasi.
c. Memiliki kemampuan dalam mengakomodasi peserta didik sesuai dengan modalitas belajarnya terutama bagi mereka yang memiliki tipe visual, auditif, kinestetik atau yang lainnya.
d. Mampu mengembangkan materi tabligh terutama membaca dan mendengarkan secara mudah.
e. Pembuatan program yang rumit serta dalam pengoperasian awal perlu pendamping guna menjelaskan penggunaannya. Hal ini bisa disiasati dengan pembuatan modul pendamping yang menjelaskan penggunaan dan pengoperasian program.
Dari klasifikasi di atas, ada beberapa pakar lain yang mengelompokkan jenis media pelajaran biasanya didasarkan pada sifat, karakteristik pesan yang disampaikan, ataupun dari rumit sederhananya media tersebut. Oleh karena itu pengelompokkan media tabligh berbeda antara ahli yang satu dengan yang lainnya, antara lain menurut :
a. Wilbur Schramm
Media digolongkan menjadi media rumit, mahal, dan media sederhana. Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputan, yaitu (1) liputan luas dan serentak seperti TV, radio, dan facsimile; (2) liputan terbatas pada ruangan, seperti film, video, slide, poster audio tape; (3) media untuk belajar individual, seperti buku, modul, program belajar dengan komputer dam telpon.
b. Gagne
Media diklasifikasi menjadi tujuh kelompok, yaitu benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar bergerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media tabligh tersebut dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi menurut hirarki belajar yang dikembangkan,yaitu pelontar stimulus belajar, penarik minat belajar, contoh prilaku belajar, member kondisi eksternal, menuntun cara berpikir, memasukkan alih ilmu, menilai prestasi, dan pemberi umpan balik.
c. Edgar Dale .
Media di golongkan menurut pengalaman belajar mad’u yaitu : dari pengalaman yang bersifat konkrit hingga yang bersifat abstrak, yaitu dengan jenjang sebagai berkut :
– Direct Purposefull Experience (pengalaman melalui pengalaman langsung dan bertujuan)
– Contrived Experience (pengalaman melalui tiruan)
– Dramatic Experience (pengalaman melalui dramatisasi)
– Demonstran Experience (pengalaman melalui demonstrasi seprti tarian, pakaian dsb).
– Field Trip (pengalaman melalui karya wisata)
– Exhibit (pengalaman melalui pameran)
– Televisi
– Motion Picture (pengalaman melalui gambar hidup)
– Recording, radio, still picture (rekaman, radio, gambar diam)
– Visual Symbol (lambang visual)
– Verbal Symbols (lambang verbal)
d. Allen
Media diklasifikasikan menjadi sembilan kelompok media, yaitu: visual diam, film, televisi, obyek tiga dimensi, rekaman, pelajaran terprogram, demonstrasi, buku teks cetak, dan sajian lisan. Di samping mengklasifikasikan, Allen juga mengaitkan antara jenis media tabligh dan tujuan tabligh yang akan dicapai. Allen melihat bahwa, media tertentu memiliki kelebihan untuk tujuan belajar tertentu tetapi lemah untuk tujuan belajar yang lain. Allen mengungkapkan enam tujuan belajar, antara lain: info faktual, pengenalan visual, prinsip dan konsep, prosedur, keterampilan, dan sikap. Setiap jenis media tersebut memiliki perbedaan kemampuan untuk mencapai tujuan belajar; ada tinggi, sedang, dan rendah.
e. Ibrahim
Media dikelompokkan berdasarkan ukuran serta kompleks tidaknya alat dan perlengkapannya atas lima kelompok, yaitu media tanpa proyeksi dua dimensi; media tanpa proyeksi tiga dimensi; media audio; media proyeksi; televisi, video, komputer.
f. Nana Sudjana
Media diklasifikasikan membagi dua jenis media yaitu : Media dua dimensi dan media tiga dimensi. Media Grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik, dan lain-lain. Media grafis sering disebut juga media dua dimensi yaitu media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Sedangkan Media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid), model menampang, model susun, model kerja, mock-up, diorama dll.
g. Kemp dan Dayton
Media diklasifikasikan menjadi sembilan kelompok media, yaitu: Media cetak, Media pajang, Overhead transparacies (OHT) dan Overhead Projector (OHP), Rekaman audiotape, Slide dan filmstrip, Penyajian multi-image, Rekaman video dan film, dan Komputer.
h. Gerlach dan Ely
Media dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri fisiknya atas delapan kelompok, yaitu benda sebenarnya, presentasi verbal, presentasi grafis, gambar diam, gambar bergerak, rekaman suara, pengajaran terprogram, dan simulasi
i. Rudy Bretz
Mengklasifikasikan ciri utama media menjadi tiga unsur pokok, yaitu: suara, visual, dan gerak. Di samping itu Bretz juga membedakan antara media siar (telecomunication) dan media rekam (recording), sehingga terdapat delapan klasifikasi media, yaitu : (1) media audio visual gerak, (2) media audio visual diam, (3) media audio semi gerak, (4) media visual gerak, (5) media visual diam, (6) media semi gerak, (7) media audio, dan (8) media cetak.

C. Rangkuman
Ada berbagai pengklasifikasian media yang disesuaikan menurut tujuan atau maksud pengelompokannya. Ada banyak media tabligh, mulai dari yang sangat sederhana hingga yang kompleks dan rumit, mulai dari yang hanya menggunakan indera mata hingga perpaduan lebih dari satu indera. Dari yang murah dan tidak memerlukan listrik hingga yang mahal dan sangat tergantung pada perangkat keras.
Perkembangan media telah menimbulkan revolusi empat kali dalam dunia dakwah. Revolusi pertama telah terjadi beberapa puluh abad yang lalu, yaitu pada saat orang tua menyerahkan dakwah anak-anaknya kepada orang lain yang berprofesi sebagai muballigh; revolusi kedua terjadi dengan digunakannya bahasa tulisan sebagai sarana utama dakwah; revolusi ketiga timbul dengan tersedianya media cetak yang merupakan hasil ditemukannya mesin teknik percetakan; dan revolusi keempat berlangsung dengan meluasnya penggunaan media komunikasi elektronik.

D. Suggested Readings
Alvin Toffler, 1980. The Third Wave. New York: William Morrow and Company.
Asa Briggs dan Peter Burke, 2006, Sejarah Sosial Media: Dari Guttenberg Sampai Internet, terj. A. Rahman Zainudin, Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia
Asep S. Muhtadi, 2008, Komunikasi Dakwah, Bandung: Sajjad
Everett M. Rogers, 1986. Communication Technology. New York: The Free Press.
Moch. Fakhruroji, 2000, Dakwah di Era Digital, dalam Majalah ANIDA, Fak. Dakwah IAIN Bandung.
Ristianto Wibowo, 2005. “Internet untuk Semua” dalam Info Komputer edisi April, Jakarta: Prima Infosarana Media.

E. Latihan
1. Apa saja jenis media tabligh, jelaskan!
2. Apa saja karakteristik media tabligh, jelaskan!
F. Daftar Istilah
Revolusi
Visual
Non visual
Preventif
Audio visual

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: